UNGGUL, ZULFIKAR ROBBAYANI

MUSLIM GEOGRAPHER, Be Spatial, Be Social To Be Special

Minggu, 11 Maret 2012

Sesungguhnya cinta itu (tidak) kontroversial

Ingatkah saat kamu dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini kamu tengah mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabatku. Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas pesan dengan pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu mendengar nada panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya itu, wajahnya seketika merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di telinganya. Penampilannya pun kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi pun sekarang lebih berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah, warna-warni, dan wangi semerbak.

Lebih mencengangkan lagi, di kostnya bertebaran buku-buku karya Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang banyak menghasilkan masterpiece bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun menjadi penyair yang mampu menggubah puisi cinta. Sesekali dilantunkannya bait-bait syair. "Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta mengarus lembut, mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata air abadi yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga."

Aku tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak urung menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai manusia, wajar jika aku ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?

Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabatku itu? Bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati? Apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri ataukah berupa godaan sehingga harus dibelenggu? Bagaimana sebenarnya Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi cinta? Tak mudah rasanya menemukan jawaban dari kontroversi cinta ini.

Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 165, "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.

Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai perbedaan dan garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.

Islam menyajikan pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang bagaimana manusia seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan tertinggi perasaan cinta adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada sesama makhluk diurutkan sesuai dengan firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat (yang mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sedangkan harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk dicintai pada tataran yang lebih rendah (QS 9: 24).

Subhanallah!

***

Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah, membaca Al Qur’an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud. Betapa indahnya jalinan cinta itu!

Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh Sang Khaliq senantiasa didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya. Kali ini aku baru mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela agama-Nya.

Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi, qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya, hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang sempurna.

Puji syukur ya Allah, aku menjadi lebih paham sekarang! Cinta memang anugerah yang terindah dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia keliru menafsirkan dan menggunakannya. Islam tidak menghendaki cinta dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta diumbar mengikuti hawa nafsu seperti kasus sahabat aku tadi.

Jika saja dia mencintai Allah SWT melebihi rasa akung pada kekasihnya. Bila saja pujaan hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya. Dan andai saja gelora cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti syariat-Nya yaitu bersegera membentuk keluarga sakinah, mawaddah, penuh rahmah dan amanah... Ah, betapa bahagianya dia di dunia dan akhirat...

Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti ini diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama sekaligus pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya Kalung Burung Merpati (Thauqul Hamamah), "Cinta itu bagaikan pohon, akarnya menghujam ke tanah dan pucuknya banyak buah.

Wallahua’lam bish-showab.

Kamis, 09 Februari 2012

Puisi Suami yang Minta Izin Poligami

Istriku,

jika engkau bumi, akulah matahari

aku menyinari kamu

kamu mengharapkan aku

ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang

aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau

lantas aku ingat satu hal

bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain

yg juga mengharap aku sinari

Jadi..

relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku

menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati

dan Tuhan pun tak marah...


Balasan Puisi sang istri ...

Suamiku,

bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya

aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet

yg pernah TUHAN ciptakan

karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran

dan akupun juga tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu

TAPIIIIIIII..


bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt,

jangan bermimpi menyinari planet lain!!!

karna kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi

bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita,

di tengah remang-remang pencahayaanmu

yg telah aku mengerti

utk tetap menguak mata

coba liat siapa dirimu... MENTARI atau lilin?

Please deh .....



bunga rampai XII

Kamis, 15 Desember 2011

Karenamu

Aku bukanlah lelaki yang sempurna, banyak hal yang tidak bisa kulakukan, tapi aku akan terus belajar, aku tidak bermaksud melakukan ini padamu, dan ada hal yang harus kukatakan sebelum aku pergi, dan aku hanya ingin engkau tahu.

Alasanku,

Yaitu untuk merubah siapa diriku dulu, sebuah alasan untuk memulai dengan lembaran baru, Dan alasannya adalah dirimu

maafkan aku jika aku menyakitimu, hal ini harus ku jalani setiap waktu, dan semua rasa sakit yang kuberikan padamu, kalau saja aku bisa mengubahl semuanya, dan aku menjadi orang yang siap melepaskan semua kesedihanmu, dan karena itu aku ingin engkau tahu

Alasannya adalah dirimu

Aku telah menemukan alasan untuk menunjukkan, satu sisi yang tidak kau tidak tahu, sebuah alas an untuk semua yang saya lakukan, dan semua karenamu

Kamis, 03 September 2009

Di Persimpangan Aku Berdiri

Cukuplah...
kusimpan semua ceritaku
yang dulu

Tentangku...
tentang apapun yang membuatku
tiada berarti

Di Persimpangan aku...
berdiri
membisu
harus kuputuskan
kemanakah ku melangkah...

Jangan lagi
usikku meski aku tak tau
kemana lagi aku berlari
kejar harapan
yang sempat mengelam
biarkanlah
kuhidup dengan nafas yang baru
nafas yang menyimpan kedamaian
di persimpangan
aku berdiri

Cukup Januari kemarin kutinggalkan
kelamku...
tentangku
dan masa lalu yang membuatku
tiada berarti

Raih Hatiku

Ya Allah, saat aku pejamkan mata ini…
Entah mengapa banyak terlintas diseluruh jiwa…
Seluruh kalbu dan nuraniku….
Aku malu pada-Mu, ya Allah….
Ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatanku
Aku terbayang ketika itu…
Hidup dalam kedzaliman…
Ya Allah,…apakah takdirku untuk seperti itu?
Aku tak ingin terlahir sebagai pengumbar fitnah…
Begitu banyak…begitu banyak fitnah merajaiku…
Sehingga aku tak tahu lagi malu pada-MU…
Sungguh hina diriku di hadapan-Mu,…
Hina di hadapan para pejuang-Mu…
Malu….sungguh malu aku pada-Mu…
Lantas, ketika itu tak ada lagi rasa rindu,…
Yang terfikir….hanyalah kesenangan…
Yang terfikir…. Hanyalah omongan
Yang terfikir….hanyalah kehidupan dunia semata
Sekarang…RANGKULLAH AKU DI JALAN-MU.

Rabu, 26 Agustus 2009

NEW CAMPUS

kini aku sudah menduduki bangku kuliah, hari-hari baru menantiku. banak teman-teman yang kukenal, mulai dari yang jail, urakan, sholeh, pendiem, dll.ospek sudah berlangsung selama tiga hari, oke thats good, tidak ada masalah pada ospek, cuma aku mencari barang pr yang mahal, maklum. tapi setelah ini pati ad banyak tugas dan aku harus membiasakannya, aku memiliki target selesai 7 semester, aku harus bisa, 

kobarkan semangat. Allahuakbar!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Rabu, 27 Mei 2009

Darkness and Starlight


Oh my Lady, so far away now.
Will I ever see your smile?
Love goes away, like night into day.
It's just a fading dream.
I'm the darkness, you're the stars.
Our love is brighter than the sun.
For eternity, for me there can be,
Only you, my chosen one...
Must I forget you? Our solemn promise?
Will autumn take the place of spring?
What shall I do? I'm lost without you.
Speak to me once more!
We must part now, my life goes on.
But my heart won't give you up.
Ere I walk away, let me hear you say
I meant as much to you....
You touched my heart.
I will be forever yours.
Come what may, I won't age a day,
I'll wait for you, always...

About Me

Foto saya
wonogiri, indonesia, Indonesia
seorang hamba yang dilahirkan dari rahim seorang ibu yang tercinta, Ibu Hartini, dialah pahlawan bagiku, dia yang membuatku bisa mengenal cinta, mengenal pengorbanan dan mengenal sejuta makna kehidupan ini....